Sensasi Diskotik Berjalan

ADA sesuatu yang menarik sekaligus unik sobat anjoong sekalian tatkala menginjakkan kaki pertama kali di Kota Kering, Kota Maumere, Flores, NTT, awal tahun 2008 lalu. Karena kendaraan yang didatangkan dari Jakarta belum juga sampai akibat cuaca laut yang tak menentu dan mempengaruhi jadwal kapal Surabaya–Maumere, maka kemana-mana kami pun menggunakan jasa angkutan kota atau orang Maumere menyebutnya “oto“, mungkin singkatan dari kata otomotif.

Lalu apanya yang unik? Pertama yang unik adalah oto-oto dalam kota tak punya rute tertentu atau tergantung kemauan penumpang. Mirip naik taksi di Jawa. Kelemahannya tentu saja tak terjadwal dan tak tepat waktu. Bahkan bisa jadi tujuan yang hanya berjarak 2 km misalnya, harus ditempuh hampir satu jam karena oto berputar-putar mengantar penumpang lain dengan tujuan yang berbeda-beda. Kemudian bodi oto juga di cat dengan warna-warna yang glamour dan menyolok penglihatan. Pada umumnya satu oto warnanya tak hanya satu atau dua, tetapi berwarna-warni dengan pengecatan memakai teknik airbrush.

Berikutnya adalah penumpang oto. Penumpang oto tak hanya manusia, tetapi binatang piaraan pun terkadang masuk oto. Babi, kambing, atau ayam adalah binatang yang sudah terbiasa naik oto. Binatang-binatang ini biasanya ditaruh di bagian atas. Seperti gambar di bawah ini yang sempat saya dapatkan suatu siang dimana seekor kambing juga jadi penumpang oto. Pada umumnya oto-oto yang memuat ini adalah oto yang mempunyai rute keluar kota. Penumpangnya kebanyakan dari kaum petani di desa-desa sekitar Maumere.

Kambing pun naik oto!

Dan yang terakhir tak kalah uniknya, setiap oto itu selalu menggunakan audio mobile dengan daya dan suara yang cukup besar. Beda di Pulau Jawa, angkutan kotanya nyaris tak mengaktifkan audio mobile-nya, dan kalaupun diaktifkan tidak memutar volume sampai tandas alias maksimal yang bisa menggedor-gedor gendang telinga. Dan rata-rata, oto-oto di kota-kota Indonesia Timur juga menggunakan audio seperti ini.

Lagu-lagu yang diputar pun sebagian besar adalah lagu-lagu disco remix yang kata teman saya sering diputar di diskotik-diskotik yang jumlahnya bejibun di Kota Maumere. Mayoritas lagu-lagu yang diputar adalah lagu-lagu dari Manado dan Ambon. Namun terkadang ada juga yang agak melo, lagu-lagunya Pance Pondaag. Bagi saya yang tak terbiasa dengan hingar-bingar suara keras dan berdentum, menjadi siksaan tersendiri.

Betapa tidak, dengan ruangan oto yang terbatas dan dentuman musik yang menghentak-hentak terasa merobek-robek telinga. Suatu ketika kawan saya yang lain pernah meminta sang sopir untuk mengecilkan volumenya, namun justru di jawab: “Baru datang dari kampung ya!” Kami hanya senyum-senyum saja mendengar jawabannya itu.

Informasi yang saya dapatkan, musik ini merupakan sarana untuk menarik penumpang, terutama dari kalangan pelajar dan remaja. Pada umumnya, kalangan ini hanya berminat naik oto yang mempunyai audio mobile. Jadi, bagi oto-oto yang tanpa kelengkapan seperti ini, jangan harap akan mendapatkan penumpang yang banyak.

Namun, lambat laun saya pun mulai menikmati “diskotik-diskotik berjalan” ini. Daripada dongkol yang tentu bisa menambah siksaan, lebih baik berusaha menikmati apa adanya. Pastinya lama-kelamaan menjadi terbiasa dan menimbulkan sensasi tersendiri. Ya inilah Flores, pulau ular dengan sejuta pesona dan keunikan, diskotik pun bisa diusung ke dalam oto!
sumber:pencangkul blog
Previous
Next Post »
0 Komentar